Keanggotaan Harus Datang Langsung
Pendaftaran mengharuskan masyarakat datang ke lokasi, melakukan foto di tempat, dan menunggu kartu fisik.
Platform digital terintegrasi untuk Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau yang menghubungkan pencarian katalog publik, keanggotaan digital, katalogisasi MARC, pembuatan label barcode, sirkulasi koleksi, hingga laporan operasional.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kepulauan Riau mengelola layanan perpustakaan publik dengan koleksi berskala provinsi. Layanannya mencakup akses katalog, keanggotaan, peminjaman koleksi, pengolahan bahan pustaka, publikasi informasi, dan pelaporan internal untuk masyarakat serta petugas perpustakaan.
Skala koleksi dan layanan sudah besar, tetapi sejumlah proses masih bergantung pada kehadiran fisik dan pekerjaan manual. Masyarakat belum memiliki akses katalog yang memadai, sementara petugas membutuhkan alur kerja yang lebih terstruktur untuk mengelola koleksi dan transaksi.
Pendaftaran mengharuskan masyarakat datang ke lokasi, melakukan foto di tempat, dan menunggu kartu fisik.
Masyarakat sulit memeriksa judul, subjek, kategori, dan ketersediaan koleksi sebelum datang ke perpustakaan.
Input metadata, verifikasi, pembuatan barcode, dan persiapan label membutuhkan workflow yang lebih konsisten.
Katalog, sirkulasi, keanggotaan, publikasi, dan pelaporan perlu bekerja dari sumber data yang sama.
Solunesia membangun dua lapisan sistem yang saling terhubung: portal publik untuk layanan mandiri masyarakat dan Library Management System untuk operasional petugas. Keduanya menggunakan data yang sama sehingga informasi publik dan proses internal tetap konsisten.
Portal publik menangani pencarian OPAC, keanggotaan, perpanjangan peminjaman, informasi, dan komunikasi layanan. Di sisi internal, LMS mengelola katalogisasi MARC, review data, label barcode, sirkulasi, publikasi, serta laporan dengan akses berbasis peran.
Pencarian koleksi, keanggotaan, perpanjangan, informasi, dan layanan mandiri masyarakat.
Katalogisasi, pengolahan, sirkulasi, publikasi, statistik, dan laporan operasional.
Tujuh peran pengguna memisahkan tanggung jawab sesuai fungsi layanan dan pekerjaan petugas.
Perubahan koleksi dan status layanan dapat mengalir dari proses internal menuju portal publik.
Masyarakat dapat mencari koleksi berdasarkan judul, penulis, subjek, dan kategori DDC tanpa harus memahami proses katalogisasi internal perpustakaan.
OPAC dirancang sebagai pintu masuk utama untuk menemukan koleksi. Metadata MARC yang dikelola oleh petugas menjadi dasar pencarian publik, termasuk filter kategori DDC dan pencarian dengan beberapa parameter.

Pendaftaran yang sebelumnya bergantung pada loket fisik dipindahkan menjadi proses online, sehingga masyarakat dari berbagai wilayah Kepulauan Riau dapat mengajukan keanggotaan tanpa harus datang ke Tanjungpinang.

Datang ke perpustakaan, foto di loket, menunggu kartu fisik, dan terbatas pada jam layanan.
Daftar dari perangkat apa pun, unggah foto sendiri, dan menerima kartu anggota digital melalui WhatsApp.
Pengolahan koleksi dibuat sebagai workflow terstruktur dari input metadata hingga buku siap ditempatkan di rak. Data tidak hanya dicatat, tetapi juga melalui proses review sebelum dipublikasikan ke OPAC.

Metadata seperti ISBN, DDC, penulis, edisi, penerbit, subjek, jumlah eksemplar, dan cover dikelola melalui formulir MARC. Record yang dibuat petugas diproses melalui verifikasi dua tahap sebelum diterbitkan ke OPAC.

Sistem menghasilkan label siap cetak yang memuat nomor panggil DDC, nomor eksemplar, dan identitas inventaris. DDC spine band juga dapat dibuat untuk membantu proses penempatan dan pencarian koleksi secara fisik.
Aktivitas anggota dan transaksi koleksi dicatat di dalam sistem yang sama, sehingga data peminjaman, pengembalian, keanggotaan, dan laporan tidak perlu dikompilasi ulang dari beberapa sumber.

Peminjaman dan pengembalian terhubung dengan data anggota serta koleksi.

Data anggota dapat dipantau dan dirangkum tanpa proses rekap manual.

Transaksi dan aktivitas layanan dapat ditampilkan berdasarkan data yang sudah tercatat.
Portal publik tidak hanya menjadi antarmuka layanan, tetapi juga dibangun agar informasi perpustakaan lebih mudah ditemukan melalui pencarian organik dan digunakan dari perangkat mobile.
Trafik organik yang masuk ke portal dari hasil pencarian Google.
Berapa kali halaman portal muncul di hasil pencarian Google.
Posisi rata-rata portal di halaman hasil pencarian Google.
Mayoritas pengunjung mengakses portal dari perangkat mobile.

Data dari Google Search Console menunjukkan pertumbuhan visibilitas organik portal sejak peluncuran. Informasi perpustakaan kini lebih mudah ditemukan oleh masyarakat melalui pencarian online.
Digitalisasi memperluas akses masyarakat sekaligus membuat pekerjaan internal lebih terstruktur. Dampaknya terlihat pada layanan keanggotaan, pencarian koleksi, pengolahan data, pelaporan, dan visibilitas layanan perpustakaan.
Masyarakat dari 7 kabupaten/kota dapat mendaftar tanpa harus datang langsung ke Tanjungpinang.
OPAC membuka akses pencarian koleksi dengan filter DDC dan metadata yang dikelola secara terstruktur.
MARC, proses review, barcode, dan label dijalankan sebagai satu workflow sebelum koleksi dipublikasikan.
Portal mencatat pertumbuhan trafik organik sekitar 300-500% dan memperluas jangkauan layanan publik.
Mulai dari layanan masyarakat, proses internal, data, dokumen, dan sistem yang sudah digunakan.
Kami membantu melihat proses yang perlu dihubungkan, disederhanakan, atau dibuat dapat diakses secara online.
Setelah kebutuhan jelas, modul, integrasi, akses pengguna, dan tahapan implementasi dapat disusun lebih terarah.